Newest Post

Nama Makassar di Empat Negara

| Friday, December 21, 2012
Selengkapnya



Makassar, selain dikenal sebagai ibukota propinsi Sulawesi Selatan, rupanya juga merupakan nama kota/tempat di empat daerah lain. Hampir semuanya punya kaitan historis yang erat dengan kota Makassar, di Sulawesi Selatan.
Berikut ini empat tempat yang bernama Makassar.
1. Kampung Makassar di Jakarta Timur
Kawasan yang dahulu termasuk Kampung Makasar dewasa ini meliputi wilayah kelurahan Makasar dan sebagian dari wilayah Kelurahan Kebon Pala, Kecamatan Kramat Jati, Kotamadya Jakarta Timur.
Disebut sebagai Kampung Makasar, karena sejak tahun 1686 dijadikan tempat pemukiman orang – orang Makasar di bawah pimpinan Kapten Daeng Matara. Mereka adalah para tawanan perang yang dibawa ke Batavia setelah takluknya Kerajaan Gowa, dibawah Sultan Hasanuddin tunduk kepada Kompeni VOC selepas Perang Makassar di abad-17. Perjanjian Bungaya yang mengakhiri Perang Makassar menyebutkan bahwa Gowa harus mengirimkan 1000 budak pria dan wanita ke Batavia sebagai tanda ketundukan.
Salah seorang putri Daeng Matara menjadi istri Pangeran Purbaya dari Banten yang memiliki beberapa rumah dan ternak di Condet, yang terletak disebelah barat  Kampung Makasar.
Pada awalnya mereka di Batavia diperlukan sebagai budak, kemudian mengingat krisis pasukan di kalangan serdadu VOC, orang-orang Makassar yang dikenal sebagai petarung ini dijadikan pasukan bantuan dan dilibatkan dalam berbagai peperangan yang melibatkan kompeni VOC di berbagai kawasan Nusantara. Diantaranya sempat ikut diterjunkan melawan perang Diponegoro (1725-1730), dll.
Pada tahun 1673 orang-orang Makassar ini ditempatkan di sebelah utara Amanusgracht, yang kemudian dikenal dengan sebutan Kampung Baru. Mungkin merasa bukan bidangnya, tanah di Kampung Makasar yang itu tidak digarap sendiri melainkan disewakan kepada pihak ketiga, akhirnya jatuh ketangan Frederik Willem Preyer, salah seorang tuan tanah Batavia kala itu. Pada tahun 1810 pasukan orang Makasar oleh Daendels secara administratif digabungkan dengan pasukan Bugis.
Makassar juga merupakan nama kelurahan di kecamatan Ternate Tengah, propinsi Maluku Utara.
 (foto: gadis Makassar berbaju Bodo transparan)
2. Kota Makassar di Cape Town Afrika Selatan
Makassar adalah kota kecil di Afrika Selatan, berdekat dengan Strand dan Somerset Barat, dengan perkiraan populasi 38.136 jiwa. Sejarah kota kecil ini terkait erat dengan sosok sufi pejuang asal Gowa, Syekh Yusuf Tuanta Salamaka, yang makamnya ditemukan di sana.
Tuanta Salamaka Syekh Yusuf Tajul Khalwati lahir di Makassar thn 1626 dan wafat di Macassar, Cape Town thn 1699. Beliau adalah pahlawan nasional asal Makassar, Indonesia yang berjuang bersama Sultan Ageng Tirtayasa melawan kompeni VOC Belanda di Banten, kemudian ditangkap dan diasingkan ke Srilanka (Ceylon) dan Afrika Selatan.
Makam Syekh Yusuf Tuanta Salamaka, merupakan salah satu tempat suci yg sering menjadi tempat ziarah oleh penduduk Muslim Afrika Selatan. Syekh Yusuf, yang diasingkan oleh Belanda ke Afsel tahun 1694, pertama kali mendarat beserta pengikutnya di pantai itu dan menamakan nya Makassar.
Makassar Afsel ini adalah kawasan berpenduduk kulit berwarna yang penghasilannya dari nelayan dan membuat perahu. Mata pencaharian ini sepertinya diturunkan oleh Syekh Yusuf dan pengikutnya kala diasingkan di sana.

3. Desa Makassar di Mozambik
Makassar adalah sebuah desa di Ancuabe Kecamatan di Propinsi Cabo Delgado di kawasan timur laut Negara Mozambik. Desa ini terletak timur laut ibukota distrik Ancuabe. Belum ditemukan keterkaitan historis antara Makassar di Gowa dan Makassar di Mozambik ini.
Namun melihat kedekatan geografis antara Afrika Selatan dengan Mozambik, maka mungkin bisa dikaitkan bahwa Syekh Yusuf Tuanta Salamaka al-Makassari pernah menitip jejak hidup di sini. Dakwah Islam beliau, sekaligus usaha nya untuk mengangkat derajat kaum budak di negeri itu sepertinya menjangkau hingga ke negara di ujung selatan benua Afrika ini.
 
4. Pante Makassar di Timor Leste
Pante Makasar (juga dikenal dengan nama Pante Macassar) adalah sebuah kota di pantai utara Timor Leste, 281 km di sebelah barat Dili, ibu kota negara itu. Penduduknya 4.730 orang (tahun 2006). Kota ini adalah ibu kota eksklave Oecussi-Ambeno.
Nama “Pante Makasar,” menunjuk kepada perdagangan di masa lampau yang terjadi dengan Makassar di Sulawesi. Di kalangan masyarakat setempat, Pante Makasar juga dikenal sebagai “Oecussi,” yang secara harfiah berarti “meriam air”. Nama ini dulunya adalah nama salah satu dari dua kerajaan. Yang lainnya adalah Ambeno. Pada masa kolonial Portugis, kota ini juga dikenal dengan nama Vila Taveiro.
Lifau, di pinggiran kota yang sekarang, dulunya adalah tempat orang-orang Portugis pertama kali mendarat di Timor dan merupakan ibu kota pertama Timor Portugis. Kota ini tetap menjadi ibu kota hingga 1767, dan setelah itu dipindahkan ke Dili karena terus-menerus mendapat serangan Belanda.
Karena jaraknya jauh dari daerah-daerah lain di Timor Leste, Oecussi-Ambeno, dan khususnya Pante Makasar, menjadi wilayah pertama yang diduduki oleh Indonesia pada 29 November 1975.

Nama Makassar di Empat Negara

Posted by : Maman Ichsan
Date :Friday, December 21, 2012
With 0komentar

Asal nama kota Makassar

|
Selengkapnya
Kota Makassar masih terbilang muda jika dibandingkan sejarah nama Makassar yang jauh menembus masa lampau. Tapi tahukah Anda muasal dan nilai luhur makna nama Makassar itu? Tiga hari berturut-turut Baginda Raja Tallo ke-VI Mangkubumi Kerajaan Gowa, I Mallingkaang Daeng Mannyonri KaraEng Katangka yang merangkap Tuma'bicara Butta ri Gowa (lahir tahun 1573), bermimpi melihat cahaya bersinar yang muncul dari Tallo. Cahaya kemilau nan indah itu memancar keseluruh Butta Gowa lalu ke negeri sahabat lainnya.
Bersamaan di malam ketiga itu, yakni malam Jum'at
tanggal 9 Jumadil Awal 1014 H atau tanggal 22 September 1605 M. (Darwa rasyid MS., Peristiwa Tahun-tahun Bersejarah Sulawesi Selatan dari Abad ke XIV s/d XIX, hal.36), di bibir pantai Tallo merapat sebuah perahu kecil. Layarnya terbuat dari sorban, berkibar kencang. Nampak sesosok lelaki menambatkan perahunya lalu melakukan gerakan-gerakan aneh. Lelaki itu ternyata melakukan sholat. Cahaya yang terpancar dari tubuh Ielaki itu menjadikan pemandangan yang menggemparkan penduduk Tallo, yang sontak ramai membicarakannya hingga sampai ke telinga Baginda KaraEng Katangka. Di pagi buta itu, Baginda bergegas ke pantai. Tapi tiba-tiba lelaki itu sudah muncul ‘menghadang’ di gerbang istana. Berjubah putih dengan sorban berwarna hijau. Wajahnya teduh. Seluruh tubuhnya memancarkan cahaya.

Lelaki itu menjabat tangan Baginda Raja yang tengah kaku lantaran takjub. Digenggamnya tangan itu lalu menulis kalimat di telapak tangan Baginda "Perlihatkan tulisan ini pada lelaki yang sebentar lagi datang merapat di pantai,” perintah lelaki itu lalu menghilang begitu saja. Baginda terperanjat. la meraba-raba matanya untuk memastikan ia tidak sedang bermimpi. Dilihatnya telapak tangannya tulisan itu ternyata jelas adanya. Baginda KaraEng Katangka lalu bergegas ke pantai. Betul saja, seorang lelaki tampak tengah menambat perahu, dan menyambut kedatangan beliau.

Singkat cerita, Baginda menceritakan pengalamannya tadi dan menunjukkan tulisan di telapak tangannya pada lelaki itu. “Berbahagialah Baginda. Tulisan ini adalah dua kalimat syahadat,” kata lelaki itu. Adapun lelaki yang menuliskannya adalah Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wassallam sendiri. Baginda Nabi telah menampakkan diri di Negeri Baginda.

Peristiwa ini dipercaya sebagai jejak sejarah asal-usul nama "Makassar", yakni diambil dari nama "Akkasaraki Nabbiya", artinya Nabi menampakkan diri. Adapun lelaki yang mendarat di pantai Tallo itu adalah Abdul Ma'mur Khatib Tunggal yang dikenal sebagai Dato' ri Bandang, berasal dari Kota Tengah (Minangkabau, Sumatera Barat). Baginda Raja Tallo I Mallingkaang Daeng Manyonri KaraEng Katangka setelah memeluk Agama Islam kemudian bergelar Sultan Abdullah Awaluddin Awawul Islam KaraEng Tallo Tumenanga ri Agamana. Beliau adalah Raja pertama yang memeluk agama Islam di dataran Sulawesi Selatan.

Lebih jauh, penyusuran asal nama "Makassar" dapat ditinjau dari beberapa segi, yaitu:

1. Makna. Untuk menjadi manusia sempurna perlu "Ampakasaraki", yaitu menjelmakan (menjasmanikan) apa yang terkandung dalam bathin itu diwujudkan dengan perbuatan. "Mangkasarak" mewujudkan dirinya sebagai manusia sempurna dengan ajaran TAO atau TAU (ilmu keyakinan bathin). Bukan seperti yang dipahami sebagian orang bahwa "Mangkasarak" orang kasar yang mudah tersinggung. Sebenarnya orang yang mudah tersinggung itu adalah orang yang halus perasaannya.
2. Sejarah. Sumber-sumber Portugis pada permulaan abad ke-16 telah mencatat nama "Makassar". Abad ke-16 "Makassar” sudah menjadi ibu kota Kerajaan Gowa. Dan pada Abad itu pula, Makassar sebagai ibu kota sudah dikenal oleh bangsa asing. Bahkan dalam syair ke-14 Nagarakertagama karangan Prapanca (1365) nama Makassar telah tercantum.
3. Bahasa. Dari segi Etimologi (Daeng Ngewa, 1972:1-2), Makassar berasal dati kata "Mangkasarak" yang terdiri atas dua morfem ikat "mang" dan morfem bebas "kasarak". Morfem ikat "mang" mengandung arti: a). Memiliki sifat seperti yang terkandung dalam kata dasarnya. b). Menjadi atau menjelmakan diri seperti yang dinyatakan oleh kata dasarnya. *Morfem bebas "kasarak" mengandung (arti: a). Terang, nyata, jelas, tegas. b). Nampak dari penjelasan. c). Besar (lawan kecil atau halus).

Jadi, kata "Mangkasarak" Mengandung arti memiliki sifat besar (mulia) dan berterus terang (Jujur). Sebagai nama, orang yang memiliki sifat atau karakter "Mangkasarak" berarti orang tersebut besar (mulia), berterus terang (Jujur). Sebagaimana di bibir begitu pula di hati.



John A.F. Schut dalam buku "De Volken van Nederlandsch lndie" jilid I yang beracara : De Makassaren en Boegineezen, menyatakan: "Angkuh bagaikan gunung-gunungnya, megah bagaikan alamnya, yang sungai*sungainya di daerah-daerah nan tinggi mengalir cepat, garang tak tertundukkan, terutama pada musim hujan; air-air terjun tertumpah mendidih, membusa, bergelora, kerap menyala hingga amarah yang tak memandang apa-apa dan siapa-siapa. Tetapi sebagaimana juga sungai, gunung nan garang berakhir tenang semakin ia mendekati pantai. Demikian pulalah orang Bugis dan Makassar, dalam ketenangan dapat menerima apa yang baik dan indah".



Dalam ungkapan "Akkana Mangkasarak", maksudnya berkata terus terang, meski pahit, dengan penuh keberanian dan rasa tanggung jawab. Dengan kata "Mangkasarak" ini dapatlah dikenal bahwa kalau dia diperlakukan baik, ia lebih baik. Kalau diperlakukan dengan halus, dia lebih halus, dan kalau dia dihormati, maka dia akan lebih hormat.

Asal nama kota Makassar

Posted by : Maman Ichsan
Date :
With 0komentar
Next Prev
▲Top▲